Inilah Sukabumi

Inilah Sukabumi
Danau Situgunung, Kadudampit, Sukabumi.

Rabu, 29 November 2017

Kasepuhan Adat Cipta Gelar


Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
(Ingatlah, bila di tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara kentongan, itulah tandanya. Keturunannya akan dipanggil oleh yang mau menggelar hajatan di Lebak Cawéné. Jangan lamban, sebab telaga akan pecah! Silahkan segera pergi! Tapi jangan menoleh kebelakang!)


Foto Esa Nugraha Putra.
Leuit, diantara pepohonan dan bukit.
Pada tahun 1579 Pajajaran jatuh ke tangan Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf. Ibukota Pakuan dibumi-hanguskan. Prabu Raga Mulya, raja terakhir Pajajaran,  menyingkir ke luar kota bersama dengan para pengikutnya. Melihat gelagat jaman, pengikut dan rakyat yang masih setia mengikutinya, akhirnya Prabu Siliwangi V ini berpidato di hadapan mereka. Sebuah pidato perpisahan monumental. Orang kemudian mengenang dan mengenalnya dengan Wangsit Siliwangi.
Paragraf di atas adalah bait-bait pertama wangsit yang paling banyak menuai kontroversi sampai saat ini. Siapa ki Santang? Dimana Lebak Cawene? Namun mengingat tempat yang dimaksud adalah Gunung Halimun, kita bisa memperkirakan sebagian pengikut Raga Mulya memang ada yang benar benar pergi ke tempat ini dan mendirikan permukiman baru dengan mempertahankan tradisi lama Pajajaran. 


Foto Esa Nugraha Putra.
Leuit.

Foto Esa Nugraha Putra.
Leuit yang usianya lebih muda berwarna kuning kecoklatan.
Kita sekarang mengenalnya dengan Kasepuhan adat Banten Kidul. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi. 

Foto Esa Nugraha Putra.
Alun-alun Cipta Gelar, tempat acara Seren taun digelar. Lapang terbuka, ruang rapat, Imah Gede,
Leuit si Jimat, dan panggung.

Visi raja yang mengatakan mereka yang pergi ke barat adalah orang orang netral, benar adanya. Dari jaman ke jaman, mereka tidak terdengar terlibat dalam politik pemerintahan yang berkuasa saat itu. Baik masa kesultanan Banten, Mataram Islam, Belanda, hingga Republik indonesia. Demikinan arus besar sejarah yang melatar-belakangi Kasepuhan Adat Banten Kidul pada umunya, dan Kasepuhan Adat Cipta Gelar pada khususnya.
Foto Esa Nugraha Putra.
Apakah versi sejarah di atas diterima oleh komunitas Kasepuhan Adat Cipta Gelar sendiri?

Kasepuhan adat Cipta Gelar secara administratif  terletak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dari Palabuhanratu dapat ditempuh 4 - 5 jam melalui rute Cikelat-Gunung Bongkok (Propinsi Banten). Rute yang lebih singkat melaui Kecamatan Cikakak dengan waktu tempuh 2 jam, namun dengan kondisi jalan yang lebih ekstrim. Kedua rute sebaiknya ditempuh dengan kendaraan 4X4. Hindari pergi kesana pada saat musim penghujan.
Foto Esa Nugraha Putra.Mereka merupakan orang Sunda, karuhun Pakuan (Bogor). Komunitas ini diperkirakan berdiri pada tahun 1368. Saat yang sama ketika di Kerajaan Sunda-Galuh Prabu Bunisora (1357-1371) menggantikan Prabu Linggabuanawisesa yang gugur di perang Bubat. Menurut Ki Karma yang kami temui waktu berkunjung ke sana, Kasepuhan hari ini merupakan generasi ke-9, di tahun ke 649.

Ki Karma tidak secara tegas mengaitkan keberadaan Komunitas Cipta Gelar dengan pengikut Ragamulya yang hijrah ke Gunung Halimun; ataupun dengan bait-bait prophecy wangsit Siliwangi. Namun mereka mengakui sebagai bagian dari keluarga besar Pajajaran.
Walaupun tidak seketat orang Kanekes (Baduy, Banten), orang Cipta Gelar memiliki sistem kehidupan yang amat ketat. Kewajiban adat pertama adalah menanam padi sekali panen dalam satu tahun (tidak boleh lebih). Hasilnya sebagian dimakan, dan sebagian wajib (wajib!) ditabung dalam leuit. Leuit yang paling tua, leuit Sijimat, berusia lebih dari 100 tahun.

Sebagai gambaran, Ki Karna menikah pada tahun 1970, dan gabah yang beliau tabung pada tahun itu, hari ini (2017) masih ada di leuit beliau. Betapa orang Cipta Gelar tidak main-main dengan ketahanan pangan. Tidak pernah terdengar ada bencana kelaparan di Komunitas Kasepuhan.
Foto Esa Nugraha Putra.
Ibu-ibu sedang menumbuk beras.
Desain konstruksi leuit memang dirancang untuk bertahan lebih dari 100 tahun. Melindungi keawetan gabah di dalamnya hingga lebih dari 100 tahun juga. Penggantian material paling cepat adalah penutup atap ijuk yang diganti tiap 50 tahun sekali. Menurut ki Karma, gabah yang ada di leuit tidak pernah diganggu tikus dan hama lainnya sehingga kualitasnya tetap terjaga. Hal ini didukung oleh varietas padi dan sistem tanam yang diatur secara ketat oleh adat.
Beras yang dikonsumsi rumah tangga didapat secara ditumbuk. Tidak diperkenankan diperjual-belikan.Begitu pentingnya masalah pangan ini, sehingga ungkapan rasa sukur atas keberhasilan panen perlu dirayakan dengan sebuah acara besar-besaran: Seren Taun. Acara Seren Taun kini juga dimanfaatkan untuk menjalin silaturahmi dengan dunia luar dan promosi pariwisata.

Foto Esa Nugraha Putra.
Kalau ingin mengukur seberapa kaya sebuah keluarga di Cipta
Gelar, tinggal menghitung berapa leuit yang mereka punya.
Hal lain yang menjadi kekuatan komunitas ini adalah suksesi. Kasepuhan adat menganut garis keturunan untuk masalah kepemimpinan. Mereka menyebutnya sebagai hak. Tetapi hak tidak otomatis jatuh pada anak sulung. Bila terdapat 5 keturunan Abah (pemimpin Kasepuhan), setiap anak mempunyai hak yang sama untuk diangkat jadi pemimpin. Yang lolos jadi pemimpin adalah yang lulus uji dan mendapat persetujuan dari majelis kasepuhan. Mekanisme ini terbukti ampuh melestarikan estafet kepemimpinan tanpa intrik dan konflik. Target pemimpin yang dihasilkan adalah yang Landung kandungan, laer aisan: mengayomi seluruh warga.
Foto Esa Nugraha Putra.
Rumah Panggung dengan pemandangan alam Gunung Salak.
Terdapat 106 Kepala Keluarga di Cipta Gelar. Secara formal, orang Cipta Gelar beragama Islam. Namun, dalam kesehariannya porsi adat mendominasi. Kaum laki-laki mengenakan pangsi hitam-hitam dan mengenakan iket (ikat kepala). Kaum perempuan didadamping (kain hingga mata kaki), masih banyak yang mengenakan kebaya. Mereka orang-orang yang terbuka terhadap perkembangan jaman.

Foto Esa Nugraha Putra.
Napi (ngak nemu terjemahan dalam bahasa Indosesia). Setelah ditumbuk, beras ditapi
(ditaruh di nyiru, kemudian digerak-gerakan keatas kebawah) untuk menyortir serah
(sekam) yang masih tersisa.


Rata-rata mereka memiliki ponsel dan sepeda motor. Kadang Kasepuhan menggunakan drone untuk mengontrol perkembangan wilayah. Punya stasiun radio sendiri. Kasepuhan juga mempunyai kendaraan 4X4 yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke luar daerah.







Citra setelit permukiman Cipta Gelar.


Foto Esa Nugraha Putra.
Foto Esa Nugraha Putra.Rumah tradsional penduduk diatur secara adat: harus panggung dan dan beratap ijuk atau ilalang. Aturan keras diberlakukan. Mereka yang menginginkan rumah permanen/tembok dan beratap genting, dipersilakan membangunnya di luar lingkungan adat.

Bagaimana potret keseharian Kasepuhan Cipta Gelar?
Ketika kunjungan kami ke sana, karena waktu tempuh yang cukup lama dan medan yang berat, di duapertiga perjalanan tak terasa perut terasa lapar. Sempat juga khawatir, apakah di permukiman Cipta Gelar nanti terdapat warung nasi.
Foto Esa Nugraha Putra.Rupanya kekhawatiran tersebut tak beralasan. Begitu kami disambut di imah gede, secara otomatis ibu-ibu bagian dapur mulai memasak. Setelah hidangan tersedia, sesepuh menghentikan perbincangan dan mempersilakan kami untuk makan.
Penampilan keseharian ibu-ibu ini bersahaja. Tidak terlihat memakai perhiasan berlebihan. Sementara anak perempuan berkumpul dan bermain dengan sesamanya. Ketika mau difoto, bergegas pergi sambil ketawa-ketawa tertahan. Mereka cantik-cantik, berkulit putih dan berambut panjang hitam. Sementara kaum lelaki selalu menggunakan iket.
Foto Esa Nugraha Putra.
Suasana dapur di Imah Gede (rumah besar).
Boleh dikata, permukiman Cipta Gelar hening walau di siang hari. Jarang terlihat kaum lelaki di rumah-rumah. Kelihatannya mereka semua bekerja. Kaum ibu sibuk dengan urusan rumah tangga.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...