Inilah Sukabumi

Inilah Sukabumi
Danau Situgunung, Kadudampit, Sukabumi.
Tampilkan postingan dengan label sejarah Sukabumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah Sukabumi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Rumah Sakit Bunut

Dimanakah Rumah Sakit St. Carolus? di Jakarta, ada lagunya: aku berpisah di teras Saint Carolus... Dimanakah Rumah Sakit St. Borromeus? Itu di Bandung, dekat pertigaan menuju kampus Cap Gajah. Dimanakah Rumah Sakit St. Lidwina? haaa.. ngak tau kan? Padahal, kalau anda orang Sukabumi, anda mestinya tahu Rumah Sakit Bunut. Dulu itu namanya St. Lidwina.

RS Bunut yang nama resminya sekarang adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R. Syamsudin, SH pada saat awal berdiriannya diberi nama Gemeente Ziekenhuis. Itu terjadi  pada tanggal 9 September 1920 berdasarkan SK Directur Van Binenlands Bestuur Nomor 2101/A yang dimiliki dan dikelola oleh Gemeente Soekaboemi (Pemerintah Kota Kecil Sukabumi).

Tak ada yang tahu, sejak kapan Rumah Sakit ini dipanggil Bunut, namun karena biaya pemeliharaan dan penyelenggaraan rumah sakit yang memberatkan Gemeenterad Soekaboemi, maka 12 tahun kemudian, tepatnya 10 Desember 1932 berdasarkan Surat Keputusan Staad Gemeenteraad Soekaboemi Nomor 41, maka dijuallah Rumah Sakit ini  kepada Vereeniging Van Vrouwen Tot Heit Verplegen Van Zieken En Hartgheid Tereere Gods en Lievde Tot Denaste Onder de Ziekenskpruk / Toevlucht in Leiden yang berkedudukan di Bergen op Zoom Nederland (gila, namanya panjang banget).


Lima tahun kemudian, Pada tanggal 27 Pebruari 1937, Rumah Sakit ini kembali dijual kepada P. Guliek dengan Eigendomsperceel (kepemilikan tanahnya) atas nama Misi Khatolik Roma. Nah, namanya kemudian diganti menjadi  St. Lidwina.


Pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1943, penguasaan St. Lidwina dilimpahkan kepada Sukabumi Si (Pemkot ala Jepang). Pada saat pendudukan Militer Belanda, terhitung mulai tanggal 1 Maret 1948, berdasarkan SK Sekretaris van Staad, Hoof van Heit Departement Gezonheid Nomor 8387 pada tanggal 22 April 1948 maka pengelolaannya dikembalikan kepada Convregative van Zuster van Bergen Op Zoom sebagai Heerstel in Het Feiteeliyke Bezeite oleh MMCD dan Departement van Gezonheid.


Pada era kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 22 Pebruari 1979 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 51/Menkes/SK.II/79, Rumah sakit St. Lidwina (Bunut) resmi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Kelas C bernama R. Syamsudin, SH Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi. Rumah sakit Bunut hari ini telah berubah banyak Namun ada yang tak berubah, gedung ini tetap menghadap ke arah Gunung Gede.


Goenoeng Gedeh karya Ernest Dezentje (1885-1972)
 Anak pegawai perkebunan, gemar melukis landscape dengan detail akurat. 
Dari:Koleksi Foto dari kiriman Irman Musafir Sufi di SOEKABOEMI HERITAGES


Special thanks to Rafael Al-Deco atas datanya.

Jumat, 11 Januari 2013

Asal Mula Sukabumi (3-selesai)

Jalan Capitol Soekaboemi tempo doeloe
Golok sudah terayun siap memenggal leher Pundak Arum.

Maut hanya beberapa inci siap menjemput. Para penonton menahan nafas. Tiba tiba sebuah terjangan membuat golok terpental, melayang di udara, berkilau disinar sang Surya. Wangsa Suta berdiri megah. Rambutnya melambai lambai diterpa angin. Tangan kirinya memegang Pundak Arum. Para pengawal terkesima sesaat. Namun segera mereka kembali bersiap.

Dengan lirih, Wangsa Suta berbisik lirih kepada Pundak Arum. Tunggulah aku di Gunung Parang, di bawah pohon paku berdahan lima dan condong ke selatan. Setelah itu duel seru terjadi. Wangsa Suta bergeming. Hari itu dia menunjukkan kedigdayaannya. Sang pendekar melangkah pergi dengan kepala tegak penuh kemenangan. Hatinya dipenuhi bunga, ingin segera bertemu dengan pujaan hati. Langkahnya dipercepat.

Gunung Parang, pohon paku berdahan lima, condong ke selatan. Namun Nyai Pundak Arum tak ada di sana. Wangsa Suta memanggil manggil. Hanya angin yang berdesau menjawab. Wangsa Suta terduduk lemas. Dia mengerti sesuatu telah terjadi.

Akhirnya dia menemui Sang Guru Resi Saradea. Sang resi arif berkata: Wangsa Suta, kamu tidak berjodoh di jaman ini, tapi mungkin di lain jaman. Tunggulah. Kelak bila Gunung Parang telah berkembang, maka akan lahir seorang wanita titisan Pundak Arum. Dia akan menjadi pembela kaum perempuan yang teraniaya. Bila wanita itu telah lahir, maka itulah jodohmu.

Dari hari itu, Wangsa Suta tidak pernah meninggalkan Gunung Parang. Dia setia menunggu titisan Pundak Arum. Sebagaimana visi Saradea, Gunung Parang memang terus berkembang dari masa ke masa. Jadi kalau 200 tahun kemudian, tahun 1815 de Wilde dianggap mendirikan Sukabumi, sesungguhnya bule ini hanya melanjutkan apa yang telah dirintis Wangsa Suta sekitar tahun 1600an.

Kemana sebenarnya Pundak Arum. Pundak Arum ternyata tertangkap dinas rahasia Kademangan. Dengan dibungkus karung, tubuhnya di bawa ke kepulauan Seribu, tepatnya pulau Putri. Dia menjadi tahanan pulau sampai ajal menjemput.

Di hari ini, siapa yang masih mengenal Wangsa Suta. Siapa yang tahu Gunung Parang adalah kilometer 0 kota Sukabumi. Ah, kita memang amnesia kalau menyangkut sejarah. Tidak heran kalau kita juga galau dengan jati diri kita.

(selesai)

Asal Mula Sukabumi (2).

Kita lanjutkan kisah ini.

Nyai Raden Pundak Arum tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Dia tumbuh dewasa bersama anak pungut Ki Jaro yang kemudian diberi nama Wangsa Suta. Anda mungkin sudah bisa menduga, dua orang ini akhirnya saling jatuh cinta. Cinta mereka direstui oleh kedua orang tua masing masing. Sampai di sini semua baik baik saja. Hanya sebagaimana tradisi pemuda jaman itu, belum jadi 'orang' kalau tidak meningkatkan kemampuan diri dengan berguru dan berkelana. Dari satu guru ke guru lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebagaimana sejarah yang dilakoni tokoh Sunda yang paling berpengaruh, Jaya Dewata alias Pamanah Rasa, alias Sri Baduga Maharaja Siliwangi.

Setelah mohon ijin dan pamit kepada Ki Jaro, Wangsa Suta mulai pengembaraannya. Angin membawanya ke daerah Cikembar dan berguru kepada seorang resi yang bernama Saradea. Setelah dirasa cukup menimba ilmu, akhirnya Wangsa Suta dititah untuk turun gunung dengan instruksi untuk membuka lahan di Gunung Parang. Di sebuah tempat dimana tumbuh pohon kiara kembar dan pohon paku berdahan lima yang condong ke arah selatan. Wangsa Suta telah memulai babak baru hidupnya dengan melaksanakan amanah sang guru.

Sementara itu lambat laun kecantikan Nyai Pundak Arum mulai beredar dari mulut ke mulut. Seorang Demang Sukamukti yang kaya dan berpengaruh melamarnya. Bagaimana pun kuatnya Pundak Arum dan keluarga menolak, kehendak seorang demang sulit ditolak. Akhirnya pernikahan terjadi juga. Namun malam sebelum malam pengantin, Ki Demang tewas mendadak. Sehingga Pundak Arum tetap masih perawan.

Kali kedua, Pundak Arum dilamar (juga dengan paksaan) oleh orang kaya dari Padabeunghar. Sang saudagar meninggal sebelum malam pengantin. Berikutnya yang melamar adalah Ki Puru Sastra, sama, orang kaya. Mati sebelum malam pengantin. Ada juga seorang haji yang ikut kontes. Namanya Haji Ijamalil. Nasibnya malah lebih buruk, disambar halilintar saat hendak acara lamaran. Begitu berikutnya, setiap orang yang melamar, kematian selalu menjemput sang pelamar.

Kejadian kejadian ajaib ini akhirnya menjadi buah bibir masyarakat. Demang Mangkalaya (daerah Cisaat kini) sudah mengkategorikannya sebagai kufarat subversif yang harus segera dihentikan. Penangkapan oleh aparat membawanya ke alun-alun kademangan. Putusannya jelas : hukuman mati dengan pancung. Golok sudah diacungkan.

(Bersambung

Kamis, 10 Januari 2013

Asal Mula Sukabumi


Orang selalu mencatat bahwa tanggal 13 Januari 1815 adalah hari kelahiran kota Sukabumi. Tanggal tersebut dipergunakan sejak Andreas de Wilde secara resmi menerima pengesahan nama Soeka Boemi dari pemerintah Hindia Belanda atas tanah yang dimohonnya untuk perluasan perkebunan. Kala itu de Wilde adalah konlomerat perkebunan, atau lebih dikenal dengan Preanger Planter. Anda bisa membayangkan betapa kaya dan berpengaruhnya de Wilde dengan melihat rumahnya yang sekarang dijadikan kantor Walikota (Balaikota) Bandung.

Dokumen tentang Andries de Wilde yang membeli tanah di Goenoeng Parang (kelak menjadi Soekaboemi) seharga 6153 Ringgit Spanyol tahun 1803 - sumber Algemeen Handelsblad 1923
Dari:Koleksi Foto dari kiriman Rangga Pamungkas di SOEKABOEMI HERITAGES

Tapi benarkah de Wilde yang menemukan Sukabumi?  Sebenarnya, tidak juga. Sejarah Sukabumi lebih tua dari itu. Kita bisa melacaknya hingga Pajajaran Runtag ( runtuhnya Kerajaan Pajajaran ) sekitar 1579. Waktu itu wilayah Sukabumi ini merupakan bagian dari Kedatuan (setara kabupaten sekarang) kerajaan Pajajaran. Tepatnya Kedatuan Pamingkis yang beribukota di Gunung Walat, Cibadak sekarang. Empat ratus tahun sebelumnya, di Cibadak ini pula berdiri sebuah kabuyutan Sanghyang Tapak yang diprakarsai Prabu Dharmasiksa 1175 - 1297 pada era kerajaan Sunda Galuh Kuno. Kabuyutan ini semacam tata kota yang didesain berdasar pendekatan spiritual. Lengkap dengan panduan aturan hidup warganya. Konsep kabuyutan masih bisa dilihat di Kampung Adat Cipatagelar Cikakak, Palabuhanratu saat ini. Seperti apa panduan hidup Kabuyutan Cibadak kala itu? Ada tulisan tersendiri mengenai prasasti Cicatih Cibadak di blog ini.

Kembali ke Kedatuan Pamingkis. Bupati yang berkuasa saat itu adalah Ki Ranggah Bitung. Istrinya bernama Nyi Raden Puntang Mayang. Masa-masa itu memang tidak menentu. Ibukota Pakuan telah berhasil direbut kesultanan Banten. Uforia bumi hangus sampai juga ke Kedatuan Pamingkis. Singkat cerita Gunung walat bernasib sama dengan Pakuan. Bupati Ki Ranggah Bitung gugur. Sementara istrinya yang sedang hamil diselamatkan oleh seorang jaro (lurah) bernama Ki Load Kutud dan istrinya Nini Tumpay Ranggeuy Ringsang. Mula-mula diamankan di Gunung Bongkok, Cibadak. Atas petunjuk seorang resi bernama Tutung Windu, rombongan disarankan untuk terus bergerak ke arah Gunung Sunda di daerah Palabuhanratu sekarang.

Kala itu wilayah selatan masih berupa hutan rimba belantara. Sehingga menjadi pilihan yang tepat untuk tempat persembunyian Nyi Raden Puntang Mayang. Di tengah pengungsian, mereka menemukan seorang bocah laki laki berumur enam tahunan yang kelihatannya tersesat. Menurut pengakuaannya, kampungnya juga dibakar oleh pasukan Banten. Didorong rasa welas-asih,  Jaro Kutud memunggut anak tersebut dan menyertakannya dalam rombongan pengungsi. Sebuah keputusan yang banyak berpengaruh pada rona sejarah Parahyangan. Kelak si bocah akan menjadi aktor penting berdirinya sebuah kota. 

Adapun rombongan, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Tak lama Nyi Raden Puntang Mayang melahirkan bayi perempuan. Kemudian diberi nama Nyai Raden Pundak Arum Saloyang.

(bersambung

Minggu, 08 Januari 2012

Prasasti Cibadak, Tahukah Anda ?


Anda pasti cukup familier dengan prasasti Batu Tulis di Bogor yang ditulis Prabu Surawisesa untuk menghormati Ayahandanya Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi. Namun tahukah anda terdapat empat prasasti peninggalan Kerajaan Sunda di sungai Cicatih, Kecamatan Cibadak. Sungai yang anda lintasi tiap hari melalui jembatan lengkung konstruksi Belanda. Sungai yang bila anda lintasi menggiring pikiran anda ke...sop Mamad!... (sampai sekarang masih ada, dan makin laris saja).

Pada aliran sungai tersebut ditemukan empat prasasti peninggalan raja Sunda ke 20 Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042). Tiga prasasti ditemukan di kampung Bantarmuncang, satu di kampung Pangcalikan. Jangan buru buru pergi kesana karena prasasti telah dipindahkan ke Museum Nasional, Jakarta dengan kode D73, D96, D97, D98. Pingin tau kan isinya?

   "Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah".

Sempat beredar spekulasi kemungkinan Cibadak pernah menjadi ibukota Kerajaan Sunda. Namun menilik isi prasasti, kemungkinan hanya pernah ada daerah Kabuyutan (semacam wilayah suci). Hal ini diperkuat catatan sejarah bahwa pada masa Darmasiksa Sanghayang Wisnu raja ke 25 (1175-1297), beliau banyak mendirikan Kabuyutan. Selain Sanghyang Tapak di Cibadak, didirikan juga kabuyutan di Ciburuy Garut, dan Kanekes Banten.

Ya. Kanekes mana lagi. Itu yang anda kenal dengan kampung Baduy.  


Sabtu, 07 Januari 2012

Gamelan Parakansalak, Kejutan Dari Masa Lalu.



Inspirasi saya menulis blog ini adalah rasa terkejut sekaligus terheran heran membaca harian Kompas edisi 8 Januari 2012 yang menurunkan tajuk Dari Sukabumi, Harumkan Hindia Belanda.

Disebutkan bahwa perangkat gamelan yang dibuat di Parakansalak pada tahun 1825 itu sempat melanglang buana ke Eropa dalam rangka promosi komoditas teh dan kopi. Sebagai orang Sukabumi, saya sedikit banyak faham Kecamatan Parakansalak. Kecamatan yang terletak di kaki gunung Salak ini bukanlah kecamatan kecil. Jadi pertanyaannya adalah, tepatnya di desa mana, kampung mana, tempat perangkat gamelan tersebut dibuat. Sesuatu yang tidak dijelaskan di artikel tersebut, sebagaimana absurdnya penjelasan mengapa akhirnya perangkat gamelan ini diserahkan kepada Museum Geusan Ullun, Sumedang.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...