Inilah Sukabumi

Inilah Sukabumi
Danau Situgunung, Kadudampit, Sukabumi.

Senin, 10 Februari 2025

The Seven from Pakuan. Trilogi pertama seri Purnamasari.



The Seven from Pakuan, rising from the ashes of burned palace. Tujuh orang yang bangkit dari puing-puing istana yang terbakar. Dari penulis: Esa Nugraha Putra.
Ya, pada hari Rabu, 8 mei 1579 Pakuan ibu kota Pajajaaran jatuh dan dibakar oleh pasukan koalisi Banten, Cirebon, dan Demak. Tujuh anggota keluarga kerajaan dan ponggawa yang setia mundur ke tenggara ibu kota. Sambil terus melakukan perlawanan.
Mereka adalah Ama Prabu Raja Sunda, Ki Santang sang putra mahkota, Gandrung Arum putri Raja, dan Ki Lengser penasihat istana. Kemudian sepasang pengantin muda kerajaan yang dikawal Puragabaya Rakean Kalang Sunda, tiga orang yang terpisah dari rombongan Raja.
Kisahnya menjadi menarik karena peperangan berkelindan dengan cinta segi empat, kriptologi, spiritualisme, hingga jatuh bangun mengembalikan lagi kejayaan Pajajaran.
Buku 'The Seven from Pakuan' merupakan trilogi pertama dari seri Purnamasari. Buku berikutnya adalah 'Legacy of The Seven, dan diakhiri dengan 'The Rise of the Kingdom.'

Buku ini sedang dalam proses editing dan desain cover. Direncanakan terbit pada Februari 2025. Bocoran desain covernya:






Sabtu, 28 September 2024

Pantun Bogor lakon Raja Pandita Barat Maya di Rancahmaya.

 Pada masanya, Kerajaan Pajajaran beribu-kota (dayeuh) di Pakuan (Kota Bogor sekarang). Wilayah Pajajaran dimana ibu-kota berdiri disebut Pajajaran Tengah. Pajajaran Tengah dikelilingi oleh wilayah-wilayah penyangga yang dikenal dengan Pajajaran Bantar Sagara, di Barat laut; Pajajaran jati purwa, di Timur Laut; Pajajaran Barat, di Barat Daya; Pajajaran girang, di Tenggara.

Usai keruntuhan Pakuan pada 1579, Kesultanan Banten tidak meneruskan Pakuan sebagai sebuah kota tempat bermukim. 25 tahun kemudian Pakuan kembali menjadi hutan. Sementara ke lima wilayah Pajajaran dibiarkan tanpa pemerintahan, alias status quo. Demikian sekurang-kurangya yang diceritakan Pantun Bogor lakon Raja Pandita Barat Maya di Rancahmaya.
Tidak ada yang mengklaim sebagai Raja di kelima wilayah tersebut, sebab keturunan darah biru Pajajaran terputus setelah 'ngahiyang'nya Raja terakhir, Suryakancana.
Hingga akhirnya seorang yang bergelar Ratu Haji memproklamirkan diri sebagai raja di Pajajaran Girang. Dari gelarnya, kelihatan dia sudah memeluk Islam. Niat untuk kembali mengembalikan Kebesaran Pajajaran dimulai dengan membangun kembali Pakuan. Pasukan yang dipimpin Ki Patih Raden Tanjung Manunggul, Ki Patih Anom Raden Jaya Kidang dan Ki Panghulu Raden Sanusi Haji bergerak ke Pajajaran tengah.
Disana mereka meminta bantuan tujuh orang pemuka adat yang 25 tahun yang lalu kembali dari Tegalbuleud untuk kembali merestorasi Pakuan Pajajaran.
Sikap skeptis ditunjukkan oleh ketujuh pemuka adat yang dipimpin Ki Murwa Alih. Sebab mereka meyakini Pajajaran hanya boleh dipimpin oleh keturunan darah biru Pajajaran. Timbul ketegangan antara keduanya. Situasi menjadi rumit kala Pasukan siluman datang di tengah bentrok pisik dua kawanan yang sama-sama mengaku orang Pajajaran.
Musuh dari musuhmu adalah temanmu. Kedua Pasukan 'manusia' Pajajaran sepakat untuk bersatu melawan para 'siluman Pajajaran.'
Siluman ini benar-benar siluman. Ngajirim. Istana megah mereka berdiri dalam semalam di sebuah pulau di tengah telaga Rancah Maya (Rancamaya sekarang). Rajanya bernama Prabu Niskala Wastu Nyura Barat Maya. Seorang yang mampu membuat air menjadi api.
Pertempuran berkecamuk.


Minggu, 25 Juni 2023

Kampung Adat Cipeuteuy dan Cihamerang.

 Kampung adat/ kasepuhan di desa Cihamerang dan desa Cipeuteuy kecamatan Kabandungan Kabupaten Sukabumi. Berjarak 8 km dari kantor camat Kabandungan. Terletak di kaki gunung Halimun Salak 800 mdpl. Bisa ditempuh kendaraan roda empat, 60 km dari kota Sukabumi. Secara adat mereka menginduk pada kampung adat Ciptagelar.

Kampung adat Ciptagelar yang lebih dikenal, merupakan kasepuhan yang memiliki garis histori dengan kerajaan Sunda Kuno Pajajaran. Pada era kerajaan-kerajaan Sunda kuno, memang ada tradisi untuk membentuk permukiman adat atau Kabuyutan. Beberapa yang masih dikenal hingga kini adalah Kanekes di propinsi Banten dan kampung Naga di Kabupaten Garut. Yang sudah tidak berbekas salah-satunya adalah Sanghiyang Tapak di Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi. Bukti pernah ada kabuyutan adalah prasasti yang ditemukan di sungai Cicatih. Prasastinya sekarang ada di museum Nasional.



Beberapa ritual yang masih dipertahankan adalah menghadiri seren taun di Ciptagelar dan menanam padi hanya sekali setahun. Selebihnya lebih longgar dibanding kampung adat lainnya seperti pemakaian heler/ penggilingan padi untuk mendapatkan beras.
Seren Taun sendiri merupakan ritual setahun sekali sebagai ungkapan syukur atas panen tahunan terutama padi yang menjadi kebutuhan utama masyarakat adat.



Rumah tradisional orang Sunda identik dengan rumah panggung dengan konstruksi kayu/bambu dan atap rumbia. Konstruksi rumah di kampung adat ini sudah banyak yang mempergunakan semen, keramik dan genting. Leuit masih dipergunakan walau jumlahnya terbatas. Varietas padi yang ditanam juga mulai variatif, selain varietas tradisional.
Populasi kampung adat di desa Cihamerang kampung Pameungpeuk legok 135 kepala keluarga. Masih di desa Cihamerang ada kampung adat Cibeureum 40 kk. Desa Cipeuteuy kampung Darmaga 46 kk.
Tidak seperti Ciptagelar, Sirnaresmi, dan Sirnarasa, kampung adat di Kabandungan tidak berkumpul di satu lokasi tertentu. Mereka sudah berbaur dengan masyarakat non adat. Status tanah yang mereka tempati sudah berstatus hak milik, bukan tanah ulayat. Bertani kebanyakan bermitra dengan menggarap tanah Taman Nasional Gunung Halimun Salak.



Rabu, 29 November 2017

Kasepuhan Adat Cipta Gelar

Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
(Ingatlah, bila di tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara kentongan, itulah tandanya. Keturunannya akan dipanggil oleh yang mau menggelar hajatan di Lebak Cawéné. Jangan lamban, sebab telaga akan pecah! Silahkan segera pergi! Tapi jangan menoleh kebelakang!)


Pada tahun 1579 Pajajaran jatuh ke tangan Kesultanan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf. Ibukota Pakuan dibumi-hanguskan. Prabu Raga Mulya, raja terakhir Pajajaran,  menyingkir ke luar kota bersama dengan para pengikutnya. Melihat gelagat jaman, pengikut dan rakyat yang masih setia mengikutinya, akhirnya Prabu Siliwangi V ini berpidato di hadapan mereka. Sebuah pidato perpisahan monumental. Orang kemudian mengenang dan mengenalnya dengan Wangsit Siliwangi.
Paragraf di atas adalah bait-bait pertama wangsit yang paling banyak menuai kontroversi sampai saat ini. Siapa ki Santang? Dimana Lebak Cawene? Namun mengingat tempat yang dimaksud adalah Gunung Halimun, kita bisa memperkirakan sebagian pengikut Raga Mulya memang ada yang benar benar pergi ke tempat ini dan mendirikan permukiman baru dengan mempertahankan tradisi lama Pajajaran. 

Kita sekarang mengenalnya dengan Kasepuhan adat Banten Kidul. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi. 


Visi raja yang mengatakan mereka yang pergi ke barat adalah orang orang netral, benar adanya. Dari jaman ke jaman, mereka tidak terdengar terlibat dalam politik pemerintahan yang berkuasa saat itu. Baik masa kesultanan Banten, Mataram Islam, Belanda, hingga Republik indonesia. Demikinan arus besar sejarah yang melatar-belakangi Kasepuhan Adat Banten Kidul pada umunya, dan Kasepuhan Adat Cipta Gelar pada khususnya.
Apakah versi sejarah di atas diterima oleh komunitas Kasepuhan Adat Cipta Gelar sendiri?

Kasepuhan adat Cipta Gelar secara administratif  terletak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Dari Palabuhanratu dapat ditempuh 4 - 5 jam melalui rute Cikelat-Gunung Bongkok (Propinsi Banten). Rute yang lebih singkat melaui Kecamatan Cikakak dengan waktu tempuh 2 jam, namun dengan kondisi jalan yang lebih ekstrim. Kedua rute sebaiknya ditempuh dengan kendaraan 4X4. Hindari pergi kesana pada saat musim penghujan.

Mereka merupakan orang Sunda, karuhun Pakuan (Bogor). Komunitas ini diperkirakan berdiri pada tahun 1368. Saat yang sama ketika di Kerajaan Sunda-Galuh Prabu Bunisora (1357-1371) menggantikan Prabu Linggabuanawisesa yang gugur di perang Bubat. Menurut Ki Karma yang kami temui waktu berkunjung ke sana, Kasepuhan hari ini merupakan generasi ke-9, di tahun ke 649.

Ki Karma tidak secara tegas mengaitkan keberadaan Komunitas Cipta Gelar dengan pengikut Ragamulya yang hijrah ke Gunung Halimun; ataupun dengan bait-bait prophecy wangsit Siliwangi. Namun mereka mengakui sebagai bagian dari keluarga besar Pajajaran.
Walaupun tidak seketat orang Kanekes (Baduy, Banten), orang Cipta Gelar memiliki sistem kehidupan yang amat ketat. Kewajiban adat pertama adalah menanam padi sekali panen dalam satu tahun (tidak boleh lebih). Hasilnya sebagian dimakan, dan sebagian wajib (wajib!) ditabung dalam leuit. Leuit yang paling tua, leuit Sijimat, berusia lebih dari 100 tahun.

Sebagai gambaran, Ki Karna menikah pada tahun 1970, dan gabah yang beliau tabung pada tahun itu, hari ini (2017) masih ada di leuit beliau. Betapa orang Cipta Gelar tidak main-main dengan ketahanan pangan. Tidak pernah terdengar ada bencana kelaparan di Komunitas Kasepuhan.

Desain konstruksi leuit memang dirancang untuk bertahan lebih dari 100 tahun. Melindungi keawetan gabah di dalamnya hingga lebih dari 100 tahun juga. Penggantian material paling cepat adalah penutup atap ijuk yang diganti tiap 50 tahun sekali. Menurut ki Karma, gabah yang ada di leuit tidak pernah diganggu tikus dan hama lainnya sehingga kualitasnya tetap terjaga. Hal ini didukung oleh varietas padi dan sistem tanam yang diatur secara ketat oleh adat.
Beras yang dikonsumsi rumah tangga didapat secara ditumbuk. Tidak diperkenankan diperjual-belikan.Begitu pentingnya masalah pangan ini, sehingga ungkapan rasa sukur atas keberhasilan panen perlu dirayakan dengan sebuah acara besar-besaran: Seren Taun. Acara Seren Taun kini juga dimanfaatkan untuk menjalin silaturahmi dengan dunia luar dan promosi pariwisata.

Hal lain yang menjadi kekuatan komunitas ini adalah suksesi. Kasepuhan adat menganut garis keturunan untuk masalah kepemimpinan. Mereka menyebutnya sebagai hak. Tetapi hak tidak otomatis jatuh pada anak sulung. Bila terdapat 5 keturunan Abah (pemimpin Kasepuhan), setiap anak mempunyai hak yang sama untuk diangkat jadi pemimpin. Yang lolos jadi pemimpin adalah yang lulus uji dan mendapat persetujuan dari majelis kasepuhan. Mekanisme ini terbukti ampuh melestarikan estafet kepemimpinan tanpa intrik dan konflik. Target pemimpin yang dihasilkan adalah yang Landung kandungan, laer aisan: mengayomi seluruh warga.


Terdapat 106 Kepala Keluarga di Cipta Gelar. Secara formal, orang Cipta Gelar beragama Islam. Namun, dalam kesehariannya porsi adat mendominasi. Kaum laki-laki mengenakan pangsi hitam-hitam dan mengenakan iket (ikat kepala). Kaum perempuan didadamping (kain hingga mata kaki), masih banyak yang mengenakan kebaya. Mereka orang-orang yang terbuka terhadap perkembangan jaman.

Rumah tradsional penduduk diatur secara adat: harus panggung dan dan beratap ijuk atau ilalang. Aturan keras diberlakukan. Mereka yang menginginkan rumah permanen/tembok dan beratap genting, dipersilakan membangunnya di luar lingkungan adat.

Bagaimana potret keseharian Kasepuhan Cipta Gelar?
Ketika kunjungan kami ke sana, karena waktu tempuh yang cukup lama dan medan yang berat, di duapertiga perjalanan tak terasa perut terasa lapar. Sempat juga khawatir, apakah di permukiman Cipta Gelar nanti terdapat warung nasi.
Rupanya kekhawatiran tersebut tak beralasan. Begitu kami disambut di imah gede, secara otomatis ibu-ibu bagian dapur mulai memasak. Setelah hidangan tersedia, sesepuh menghentikan perbincangan dan mempersilakan kami untuk makan.
Penampilan keseharian ibu-ibu ini bersahaja. Tidak terlihat memakai perhiasan berlebihan. Sementara anak perempuan berkumpul dan bermain dengan sesamanya. Ketika mau difoto, bergegas pergi sambil ketawa-ketawa tertahan. Mereka cantik-cantik, berkulit putih dan berambut panjang hitam. Sementara kaum lelaki selalu menggunakan iket.
Boleh dikata, permukiman Cipta Gelar hening walau di siang hari. Jarang terlihat kaum lelaki di rumah-rumah. Kelihatannya mereka semua bekerja. Kaum ibu sibuk dengan urusan rumah tangga.

Minggu, 05 November 2017

Teh celup Goalpara



Teh celup Goalpara.

Jenis blacktea, diproduksi pabrik teh Goalpara PTPN VIII, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Berdiri sejak tahun 1908, mula-mula dimiliki Tiedeman van Kerchem. Dinasionalisasi pada tahun 1958.

Nikmati citarasa bersejarah,
dari perkebunan teh berusia satu abad.

Sabtu, 04 November 2017

Rujak Bebek

Foto Esa Nugraha Putra.

Rujak bebek.
Bukan rujak beubeuk = ngak ada artinya
Bukan rujak bébék = potong bebek angsa.

Rujak bebek yang asli selalu pakai cu kulutuk.
Ingat! Hanya beli yang asli 
Porsi ini Rp. 5.000,-

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kebun Raya Bogor 2 abad 1817 - 2017.

Foto Esa Nugraha Putra.
Bunga Teratai Raksasa, salah satu koleksi Kebun Raya.
Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya dipimpin oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya.

Foto Esa Nugraha Putra.

Foto Esa Nugraha Putra.
 Istana Bogor dilihat dari Kebun Raya.

Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Nyuplik dari Wiki-lah 
Foto Esa Nugraha Putra.
BTW, Ini destinasi wisata yang rekomended (banget) bagi keluarga, penyuka jalan kaki, sepeda, hobi botani atau hutan, dan sejarah kota. Mempunyai koleksi pepohonan lengkap, danau, jalan jalan mulus, lapang rumput yang luas, toilet dan bangku taman yang bersih dan cukup banyak, mesjid, dan yang penting semua elemen terawat sempurna. Tiket Rp. 15.000,-/orang (harga heran kalau menimbang apa yang kita dapat dari lokasi ini).

Salah satu spot yang wajib dikunjungi adalah Istana Bogor yang letaknya tidak jauh dari pintu 1 (utama). Temukan juga pohon-pohon raksasa. Kalau lagi beruntung mungkin bunga bangkai lagi mekar.

Foto Esa Nugraha Putra.

Kalau mau ke sana, sebaiknya gunakan sepatu olah raga dan bekal minuman botol yang cukup. Dua jam keliling area (87 Ha) tidak akan terasa, namun cukup menguras stamina.

Foto Esa Nugraha Putra.
Jalan jalan yang terawat di Kebun Raya menambah betah mengelilingi kawasan ini.

Kalau anda tinggal di Sukabumi, bagaimana cara paling nyaman sampai ke Kebun Raya?

Foto Esa Nugraha Putra.

Foto Esa Nugraha Putra.
Ini adalah pasar di depan pintu masuk utama Kebun Raya. Berbentuk gerbang China.

Foto Esa Nugraha Putra.
Pintu Utama Kebun Raya.
Naah, bagi yang belum mencicipi kereta Bogor - Sukabumi, silakan untuk mencoba. Kalau anda berangkat dari Sukabumi, mungkin urusannya gampang karena hanya ada satu stasiun, stasiun Sukabumi. Lain lagi kalau berangkat dari Bogor. Karena ada dua stasiun, yaitu Bogorpaledang, dan Bogor. Dua stasiun ini terpisah.
Foto Esa Nugraha Putra.
Bangunan bersejarah di samping Kebun Raya. Kota Bogor memiliki banyak bangunan tua bersejarah.



Foto Esa Nugraha Putra.
Stasiun Bogorpaledang inilah yang melayani rute Bogor - Sukabumi. Letak stasiunnya agak tersembunyi. Sehingga orang yang baru pertama datang mungkin ragu-ragu apakah benar ini stasiunnya? Ditambah lagi tidak tersedia lahan parkir untuk roda empat (swer, ini benar). Sehingga kalau kebetulan anda diantar menggunakan mobil, musti jalan lagi sekitar 100m ke stasiun.

Satu lagi. Walau ini stasiun kecil, tetapi sangat padat dan sibuk. Sebaiknya membeli tiket sehari atau dua hari sebelum berangkat (onlen) karena kalau beli langsung di stasiun kemungkinan tiket sudah terjual habis. Apalagi kalau wiken. Kereta menjadi favorit karena jalur jalan raya Bogor - Sukabumi bisa memakan waktu hingga 7 jam (alamak). Sementara dengan kereta cukup dua jam dengan presisi waktu yang sangat baik.

Foto Esa Nugraha Putra.

Jadwal Kereta Api Pangrango rute Bogor Sukabumi 07.50, 13.10 dan 18.30. Sedangkan Jadwal rute Sukabumi Bogor : 05.15, 10.25, 15.45.

Foto Esa Nugraha Putra.
Pohon Randu raksasa. Bandingkan dengan orang yang berdiri di bawahnya.

Rabu, 04 Oktober 2017

Sop Mamad, Cibadak.

Foto Esa Nugraha Putra.
Sop Mamad, Cibadak.
Pak Mamad mulai berdagang sop pada tahun tahun 60an. Dimulai dengan cara ditanggeuy (ditanggung) sampai akhirnya buka lapak sendiri di Leuwi Goong, tepi sungai Cicatih, Cibadak. Walau pak Mamad tak lagi kuat berjualan (diteruskan anak-anaknya), setengah abad berjualan menjadikan Sop Mamad menjadi legenda kuliner di Cibadak.

Foto Esa Nugraha Putra.Menunya adalah sop, empal, babat, paru, perkedel, emping dan pencok daging campur. Pokoknya serba daging deh. Eh, jangan lupa sambal sopnya yang khas, terbuat dari kacang rasa asam. Di sudut dekat panci sop, terpampang foto jadul Bung Karno, Bung Hatta, dan Pak Hato.
Kalau datang ke sana, jangan dibayangkan resto wah dengan interior eksklusif. Menempati lapak sekitar 3 x 5m, kalau anda datang bersepuluh saja sudah mulai kesulitan duduk nyaman. Plus panas, plus, kesulitan mencari tempat parkir.Tapi itu mungkin yang menjadikan Sop Mamad tetap seksi untuk disinggahi.

Rabu, 27 September 2017

Geco


This is geco.
Toge + tauco = geco.
Toge bumbu tauco. 

Bahan-bahannya adalah Toge, tahu, mie, ketupat, kerupuk dan bumbu tauco yang dirahasiakan.

Apanya dari geco yang istimewa buat lidah? mungkin bumbunya yang khas. Kombinasi antara oncom dan tauco yang maut.

Satu lagi. Cara masak togenya. Toge direbus di wajan tembaga dengan kayu bakar - menambah aroma khas sajian geco ini. Perapian dijaga agar tidak terlalu besar - kecil dengan cara digayuh (tiup) dengan song song (bambu). Sesekali dikoréh dengan rokrak (terjemahkan sendiri).

Tempat bumbu tauco dan sambal dari gerabah. Tahu dan mie ditempatkan pada lembaran daun pisang. Ketupat disusun atraktif.
Asyik memang.


 
Foto Esa Nugraha Putra.
Menurut pak Bebeng, penjual geco di simpang Degung kota Sukabumi, geco bukanlah kuliner asli Sukabumi. Melainkan berasal dari Bogor. Pak Bebengpun belajar bikin geco dari bapaknya yang orang Bogor.

Uniknya, walaupun tauco yang menjadi bumbu utama berasal dari Cianjur, tapi orang sulit mendapatkan geco di sana, tambah pak Bebeng.

Available in kota Sukabumi: degung, BP, bunut, geledog, lapdek. Harga 10rb/ porsi.

Panjang umur geco Sukabumi.

Foto Esa Nugraha Putra.     Foto Esa Nugraha Putra.

Foto Esa Nugraha Putra.

Seblak



Seblak.
Koleksi: Esa


Foto Esa Nugraha Putra.
Seblak adalah seuhah! Ya, seblak identik dengan rasanya yang pedas. Seblak ini memang kreatifitas baru dalam dunia kuliner di Sukabumi. Menurut sejarahnya, seblak lahir di kota Bandung. Namun cepat populer dan diterima penggila kuliner di Sukabumi. Bahan dasarnya adalah kerupuk kuning mentah yang dilembekkan/direndam air. Dalam perkembangannya, bahan dasar makroni, dan cimol (bola-bola aci sebesar kelereng) juga populer. Bahan lainnya adalah telur, kol dan caisim. Varian rasanya sosis, ayam, ati ampela, atau kornet.

Pusat pedagang Seblak di Kota Sukabumi adalah di jalan Ir. H. Juanda atau lebih populer dengan kawasan Dago. Pangsa pasarnya memang mula-mula anak sekolah. Tercatat ada SMPN 2, SMPN 1, SMAN 4, dan Mardi Waluya di sana. Seiring waktu, dengan berkembangnya kawasan ini menjadi pusat jajanan dan tempat nongkrong, pangsa pasarnyapun meluas. Makanya kini mereka julan mulai dari siang hingga malam hari. Harga rata-rata 10rb/ porsi.

Selasa, 26 September 2017

Daftar Destinasi Wisata di Kabupaten Sukabumi

Foto Esa Nugraha Putra.


Litbang ”Kompas” bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata mengembangkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) mengacu pada Travel and Tourism Competitive Index untuk mengukur kesiapan daerah tujuan pariwisata menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Laporan jurnalistik terhadap 25 kabupaten/kota yang lolos seleksi data sekunder telah dimuat Agustus lalu. Hasil pengukuran indeks dilaporkan berikut ini, bersamaan dengan Hari Pariwisata Nasional, 27 September.

Tingkat daya saing tertinggi industri pariwisata Indonesia masih didominasi kota-kota besar. Kota Denpasar menduduki peringkat tertinggi dalam Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) dengan skor 3,81 dari rentang skala indeks 0 hingga 5.

Aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, dan infrastruktur menjadi penopang utama keunggulan ibu kota Provinsi Bali itu.

Kesiapan infrastruktur, dukungan lingkungan bisnis, dan nama Bali yang sudah terkenal di dunia menjadi fondasi kokoh pengembangan pariwisata Denpasar. Sementara dalam aspek potensi wisata alam dan buatan, posisi kota ini tidak setinggi beberapa daerah lain.

Posisi sebagai pusat persebaran wisatawan menjadi berkah bagi Kota Denpasar. Lingkungan bisnis yang mapan, ketersediaan sumber daya manusia, serta kesiapan infrastruktur teknologi informasi (TI) menjadi pilar paling berperan membangun lingkungan pendukung pariwisata kota ini.

Sebagai ikon pariwisata nasional, Bali menjadi bagian tak terpisahkan dalam strategi promosi pariwisata nasional. Tata kelola pariwisata Denpasar pun menjadi penting dan tak dapat dilepaskan dari tata kelola pariwisata nasional. Tak heran, skor pada aspek tata kelola kota ini cukup tinggi.

Aspek lingkungan pendukung bisnis dan infrastruktur menjadi entitas yang membuat Kota Denpasar unggul. Padahal, pada kedua aspek ini, posisi Indonesia dalam pengukuran indeks serupa di tingkat internasional (Travel and Tourism Competitive Index) pada tahun 2015 lemah. Indonesia menduduki posisi ke-75 dan ke-80 dengan skor 4,46 dan 3,28, keduanya pada skala 7.

Sementara dalam IPI, Kota Denpasar mendapat skor 4,12 dari skala 5, melebihi Indonesia jika diperbandingkan. Kota Surabaya berada di peringkat kedua dengan skor 3,74.

Sebagai kota bisnis, aktivitas wisata konvensi atau MICE (meetings, incentives, conference, exhibitions) berkontribusi paling penting dalam industri pariwisata di ”Kota Buaya” ini.

Aspek lingkungan bisnis pendukung dan infrastruktur menjadi modal kuat Surabaya dalam  peta industri pariwisata nasional.

Kota Batam di peringkat ketiga dengan skor 3,73. Kota di dalam segitiga gerbang pariwisata nasional bersama Bali dan Jakarta ini diuntungkan oleh posisi wilayahnya sebagai pintu masuk wisatawan asing, terutama Singapura.

Pengukuran
Salah satu kesimpulan dari hasil pengukuran IPI adalah kesenjangan antardaerah yang cukup tajam pada aspek penopang industri pariwisata. Infrastruktur menjadi kunci utama mengakses tujuan wisata.

Pilar penopang aspek ini adalah infrastruktur transportasi udara, darat, dan laut serta infrastruktur pendukung wisatawan. Aspek-aspek tersebut justru menunjukkan tingkat kesenjangan antardaerah paling tinggi.

Pengukuran memperlihatkan, ketersediaan infrastruktur pendukung pariwisata masih terpusat di kota-kota besar. Daerah dengan peringkat lima besar adalah Kota Makassar, Kota Bandung, Kota Denpasar, Kota Surabaya, dan Kota Palembang.

Sebagai kota penghubung/transit menuju kota-kota dan pulau lain di Indonesia Timur, Kota Makassar memiliki kekuatan paling menonjol dalam infrastruktur pendukung pariwisata.

Kesenjangan antardaerah juga tergambar pada aspek tata kelola, yaitu terutama mengenai peran pemerintah. Sebanyak 67 persen daerah memperoleh skor di bawah rata-rata nasional. Peringkat teratas tata kelola ditempati Kota Surakarta, Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kota Makassar, dan Kota Yogyakarta.

Aspek lingkungan pendukung merangkum lima pilar penilaian, yaitu lingkungan bisnis, keselamatan dan keamanan, sarana kesehatan dan kebersihan, sumber daya manusia dan pasar tenaga kerja, serta kesiapan infrastruktur TI.

Daerah yang memiliki skor tertinggi adalah Kota Denpasar, Sleman, Kota Semarang, Surabaya, dan Kabupaten Bantul.

Aspek potensi wisata terdiri dari dua pilar penilaian, yakni jumlah potensi wisata alam dan jumlah potensi wisata buatan. Indonesia memiliki potensi sangat kaya dan tersebar di nyaris semua kawasan.
Sebagian terbesar daerah yang mendapat penilaian tinggi pada aspek potensi wisata cenderung tidak didukung aspek-aspek lain sehingga secara umum kurang memiliki daya saing untuk menarik wisatawan dan mengembangkan industri pariwisata.

Kabupaten Sukabumi meraih skor tertinggi dalam aspek potensi wisata. Daerah lain dalam lima peringkat teratas adalah Kabupaten Badung, Kabupaten Bogor, Wakatobi, dan Raja Ampat.

Konsep indeks
IPI disusun mengacu pada konsep Travel and Tourism Competitive Index yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Pengukuran IPI berbasis data sekunder (data statistik) untuk menentukan skor indeks daya saing pariwisata di 505 kabupaten/kota.

Pengukuran indeks persepsi juga dilakukan terhadap 25 daerah dengan skor tertinggi berdasarkan hasil pengukuran indeks daya saing pariwisata. Survei persepsi yang menggunakan model wawancara tatap muka ini bertujuan memboboti hasil pengukuran indeks daya saing dengan memasukkan penilaian masyarakat terkait pembangunan pariwisata di daerah masing-masing.

Pembangunan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari empat aspek utama penopang industri ini, yaitu aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, infrastruktur, dan potensi wisata.

Keempat aspek inilah yang disusun sebagai basis konsep pengukuran IPI. Sebanyak 78 indikator data dikelompokkan menjadi 14 pilar penilaian. Tiap pilar dikelompokkan lagi menjadi empat aspek pengukuran utama.

Hasil pengukuran indeks ini menjadi peta dasar kesiapan dan daya saing daerah dalam industri pariwisata. Indeks ini bisa menjadi basis melihat secara umum potensi industri pariwisata setiap daerah di Indonesia (Suwardiman, Litbang Kompas).

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi, peta destinasi wisata di Kabupaten Sukabumi sebagai berikut:

a.    kawasan peruntukan pariwisata budaya, meliputi :
  1. kawasan wisata remaja meliputi :
a)    Bumi Perkemahan Cinumpang berada di Kecamatan Kadudampit;
b)    Bumi Perkemahan Pondok Halimun berada di Kecamatan Sukabumi;
c)    Bumi Perkemahan Situ Sukarame berada di Kecamatan Parakansalak.

  1. kawasan desa wisata berada di beberapa kecamatan meliputi :
a)    Kecamatan Nyalindung;
b)    Kecamatan Purabaya;
c)    Kecamatan Sagaranten; dan
d)    Kecamatan Curugkembar.

  1. kawasan wisata budaya dan religi berada di beberapa kecamatan meliputi :
a)    Kampung Kasepuhan Ciptagelar berada di Kecamatan Cisolok;
b)    situs batu Lumpang berada di Kecamatan Cisolok;
c)    makam Kabayan berada di Kecamatan Cisolok;
d)    situs Gentarbumi berada di Kecamatan Cisolok;
e)    Upacara Seren Taun berada di Kecamatan Cikakak;
f)     kampung Adat Sirnaresmi berada di Kecamatan Cikakak;
g)    kampung Cipta Rasa berada di Kecamatan Cikakak;
h)    situs Punden Berundak Panguyangan berada di Kecamatan Cikakak;
i)      situs Ciarca berada di Kecamatan Cikakak;
j)      situs Salak Datar berada di Kecamatan Cikakak;
k)    situs Ciawitali berada di Kecamatan Cikakak;
l)      situs Tugu Gede Cengkuk berada di Kecamatan Cikakak;


Tugu Gede Cengkuk, Cikakak.
Koleksi: Wijaya Paskar Nu Santara
m)  situs Megalith Batu Tapak Kaki berada di Kecamatan Cikakak;
n)    makam Keramat Gunung Sunda berada di Kecamatan Cikakak;
o)    Kampung Sukagalih Desa Cipeuteuy berada di Kecamatan Kabandungan;
p)    Makam Dewi Kwan Im (Nam Hai Kwan Se Im Pu San) di Kecamatan Simpenan;
q)    Rumah adat Cibeas berada di Kecamatan Simpenan;
r)     situs Megalith Gunung Rompang berada di Kecamatan Simpenan;
s)    Palagan Bojongkokosan berada di Kecamatan Parungkuda.


Foto Esa Nugraha Putra.
Palagan Bojongkokosan, Parungkuda.
Koleksi: Esa

t)     goa kutamaneuh berada di Kecamatan Gunungguruh;
u)    apun Guntai  berada di Kecamatan Cikembar;
v)    Situs Batu Nangtung berada di Kecamatan Cireunghas; dan
w)   Makam Eyang Cigangsa/ Eyang Santri Dalem berada di Kecamatan Surade;

b.    kawasan peruntukan pariwisata alam, meliputi :
  1. kawasan wisata bahari meliputi :
a)    kawasan pantai Cibangban dan Karanghawu berada di Kecamatan Cisolok;
b)    kawasan pantai Cimaja dan Citepus berada di Kecamatan Cikakak;
c)    kawasan pantai Gadobangkong berada di Kecamatan Palabuhanratu




Teluk Palabuhanratu
Koleksi: Esa
d)    Muara Cimandiri berada di Kecamatan Palabuhanratu
e)    Pantai Loji berada di Kecamatan Simpenan;
f)     Pantai Sangrawayang/ Cisantri berada di Kecamatan Simpenan;
g)    Pantai Ujunggenteng berada di Kecamatan Ciracap;
h)    Pantai Cibuaya berada di Kecamatan Ciracap;
i)      Muara Panarikan berada di Kecamatan Ciracap;
j)      Surfing Ombak Tujuh berada di Kecamatan Ciracap;
k)    Pantai Palangpang berada di Kecamatan Ciemas;
l)      Pantai Cikepuh berada di Kecamatan Ciemas;
m)  Pantai Citirem berada di Kecamatan Ciemas;
n)    Pantai Cisaar berada di Kecamatan Ciemas;
o)    Diving Karang Antu berada di Kecamatan Ciemas;
p)    Pantai Minajaya berada di Kecamatan Surade;
q)    Pantai Karang Bolong berada di Kecamatan Surade;
r)     Muara Cikarang berada di Kecamatan Surade;
s)    Muara Cikaso berada di Kecamatan Tegalbulued; dan
t)     Muara Cibuni berada di Kecamatan Tegalbulued.

  1. kawasan wisata agro meliputi :
a)    Perkebunan Goalpara berada di Kecamatan Sukaraja;


Foto Esa Nugraha Putra.
Produk teh Perkebunan Goalpara.
Koleksi: Esa

b)    Budidaya Bunga Hias berada di Kecamatan Sukaraja;
c)    Kawasan Wisata Agro Selabintana berada di Kecamatan Sukabumi;
d)    Wisata Agro di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun- Salak meliputi :
1)    Kecamatan Kabandungan;
2)    Kecamatan Kalapanunggal;
3)    Kecamatan Parakansalak; dan
4)    Kecamatan Cidahu;
e)    Wisata Agro di sekitar Taman Nasional Gede Pangrango meliputi :
1)    Kecamatan Sukaraja;
2)    Kecamatan Sukabumi;
3)    Kecamatan Kadudampit.
4)    Kecamatan Caringin.
f)     Wisata Agro Buah-buahan berada di Kecamatan Cikembar dan Warungkiara; dan
g)    Budidaya perikanan dan mina padi berada di Kecamatan Surade.

  1. kawasan ekowisata meliputi :
a)    Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) berada di Kecamatan Kabandungan;
b)    Pintu Masuk TNGHS berada di Kecamatan Cidahu;
c)    Taman Nasional Gununggede Pangrango (TNGP) berada di Kecamatan Sukabumi dan Kecamatan Kadudampit,
d)    Kawasan pantai Pangumbahan-Ujunggenteng berada di Kecamatan Ciracap; dan
e)    kawasan pantai Palabuhanratu dan sekitarnya;
f)     taman wisata alam (TWA) Sukawayana seluas kurang lebih 16 (enam belas) hektar berada di Kecamatan Cikakak dan Palabuhanratu,
g)    TWA Situgunung seluas kurang lebih 100 (seratus) hektar berada di Kecamatan Kadudampit;
h)    TWA Goa Siluman berada di Desa Buniwangi Kecamatan Nyalindung;
i)      Taman rekreasi Cimalati berada di Kecamatan Cicurug;
j)      Taman Angsa berada di Kecamatan Cicurug;
k)    Taman Wisata Bumi  berada di Kecamatan Cikidang; dan
l)      Wana Wisata Cangkuang berada di Kecamatan Cidahu;

  1. kawasan wisata sungai meliputi :
a)    Arung Jeram Sungai Cicatih berada di Kecamatan Warungkiara,
b)    Arung Jeram Sungai Citarik berada di Kecamatan Cikidang; dan
c)    Wisata Pelayaran Sungai Cikaso berada di Kecamatan Cibitung.

  1. Kawasan wisata curug meliputi :
a)    Curug Luhur berada di Kecamatan Cibitung;
b)    Curug Taman Cimuncang berada di Kecamatan Cibitung;
c)    Curug Muara Sodong berada di Kecamatan Cibitung;
d)    Curug Jawa berada di Kecamatan Cibitung;
e)    Curug Luhur berada di Kecamatan Cibitung;
f)     Curug Cidolog berada di Kecamatan Simpenan;
g)    Curug Pareang berada di Kecamatan Jampangtengah;
h)    Curug Sawer berada di Kecamatan Kadudampit;


Foto Dosen A. Karmana.
Curug Sawer
Koleksi: Dosen Asep Karmana
i)      Curug Buni Ayu berada di Kecamatan Nyalindung;
j)      Curug Sawer berada di Kecamatan Cidolog;
k)    Curug Caweni berada di Kecamatan Cidolog;
l)      Curug Nini berada di Kecamatan Cidolog;
m)  Curug Sumpel berada di Kecamatan Cidolog;
n)    Curug Cikanteh berada di Kecamatan Ciemas;
o)    Curug Cimarinjung berada di Kecamatan Ciemas;
p)    Curug Cikadal berada di Kecamatan Ciemas;
q)    Curug Canganten berada di Kecamatan Cimanggu;
r)     Curug Cimantaja berada di Kecamatan Cikidang; dan
s)    Curug Cipamulan berada di Kecamatan Cikidang.

  1. kawasan wisata situ atau danau  meliputi :
a)    Situ Sukarame berada di Kecamatan Parakansalak;


Foto Dosen A. Karmana.
Situ Sukarame, Parakansalak.
Koleksi: Dosen Asep Karmana.

b)    Situ Gunung berada di Kecamatan Kadudampit;
c)    Cekdam Pagelaran berada di Kecamatan Purabaya;
d)    Danau Kubang berada di Kecamatan Cibitung;
e)    Situ Ciengang berada di Kecamatan Kalibunder; 
f)     Situ Bagendit  berada di Kecamatan Kalibunder; 
g)    Situ Talaga Warna berada di Kecamatan Nyalindung.
h)    Situ Endah  berada di Kecamatan Waluran;  dan
i)      Danau Buatan Situ Halimun berada di Kecamatan Warungkiara;

  1. Kawasan wisata gua meliputi :
a)    Gua Curug Cikiwul berada di Kecamatan Kalibunder;
b)    Gua Lalay berada di Kecamatan Palabuhanratu;
c)    Gua Gunung Sungging/ Gua Obing berada di Kecamatan Surade; dan
d)    Gua Walet Cibalimbing berada di Kecamatan Surade.

c.    kawasan peruntukan pariwisata buatan, meliputi :
  1. Kawasan wisata minat khusus meliputi :
a)    Offroad Kemuning Resort berada di Kecamatan Nyalindung;
b)    Cikidang Hunting Resort berada di Kecamatan Cikidang;
c)    Kampung Wisata Cicarcah berada di Kecamatan Cikidang;

  1. kawasan wisata Javana Spa berada di Kecamatan Parakansalak; dan
  2. kawasan wisata sentra industri meliputi :
a)    sentra Batu Aji berada Kecamatan Sukaraja;
b)    sentra kerajinan besi berada di Kecamatan Cisaat; dan
c)    sentra industry manisan buah-buahan berada di Kecamatan Cisaat.

Pengembangan kawasan peruntukan pariwisata yang memiliki keterkaitan dengan Brand Image kepariwisataan daerah dan berorientasi pada akses pasar luar negeri, ditetapkan terdiri dari:

a.    kawasan ekowisata “Palabuhan Ratu Bay di Kecamatan Palabuhanratu dan sekitarnya;
b.    kawasan wisata agro “Selabintana Mountainous Green Hill di Kecamatan Kadudampit;
c.    kawasan wisata bahari kabupaten Sukabumi Selatan (Ujung Genteng-Pangumbahan) “Ultimate Diversity di Kecamatan Ciracap;
d.    kawasan ekowisata Taman Nasional Gunung Halimun “Halimun Ever Lasting Park di Kecamatan Kabandungan, Cikidang, Parakansalak, Cidahu, Cisolok, Cikakak, Kalapanunggal, dan Cicurug;
e.    kawasan desa wisata The Real Villages of Sundanese di Kecamatan Nyalindung;
f.     kawasan wisata spaThe Warms of More Than Sunshine di Kecamatan Cisolok;
g.    kawasan wisata tirta  “The Morning Calmdi Situ Gunung Kecamatan Kadudampit;
h.    kawasan wisata remaja “The Friendship Among Nation in the Worlddi Kecamatan Kadudampit;
i.      kawasan wisata sentra IndustriThe Unique of Arts and Craptsdi Kecamatan Sukaraja dan Desa Cimerang Kecamatan Purabaya; dan
j.  kawasan wisata air terjun “The Seven Wonder of Water Fall, meliputi : Curug Caweni – Kadudampit, Curug Cadas dan Ciung – Kalibunder, Curug Sawer dan Cibeureum – Kecamatan Sukabumi, Curug Cimanaracun – Cicurug, Curug Cimarinjung – Ciemas, Curug Luhur – Surade, dan Curug Cipipit Cikaniki – Kabandungan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...