Inilah Sukabumi

Inilah Sukabumi
Danau Situgunung, Kadudampit, Sukabumi.

Minggu, 06 Januari 2013

Asal Mula Palabuhanratu (2)

Baiklah kita sambung lagi kisah asal muasal Palabuhanratu ini.

Kala itu Prabu Sedah Raga Mulya Suryakancana berpidato di hadapan rakyat dan pengikut setianya. Di tengah suasana murung yang menyelimuti Pajajaran, beliau mengucapkan pidato perpisahan monumental yang kemudian dikenal dengan Wangsit Siliwangi. Wangsit ini sebenarnya panjang. Namun yang berkaitan dengan asal muasal Palabuhanratu justru terdapat pada bait bait awal dari wangsit.


“Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

“Perjalanan kita hanya sampai hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Aku tidak boleh membawa kalian menjadi turut menderita, hina dan kelaparan. Kalian boleh memilih, demi masa depan, jalan untuk hidup bahagia dan sejahtera, dan kelak mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran seperti saat ini, tapi Pajajaran yang baru, yang berdiri di tengah perubahan jaman! Pilih! aku tidak akan menghalang halangi. Sebab bagi ku, tidak pantas seseorang menjadi raja ketika rakyatnya lapar dan menderita.”


Dalam mukadimah wangsitnya, Suryakancana mengakui ini lah saat saat senja Pajajaran. Suatu pengakuan yang jujur dan realistis. Di saat seperti itu, beliau mempersilakan rakyat dan pengikutnya untuk menimbang nimbang berbagai pilihan. Tulus beliau katakan, pilihan untuk tetap setia pada raja saat itu adalah pilihan untuk menderita dan kelaparan. Tidak ada larangan untuk mereka yang tidak akan menempuh jalan raja.

Inilah tipikal mental raja atau urang Sunda jaman baheula. Jujur, tegas, dan mengedepankan harga diri. Sikap serupa pernah ditunjukkan Prabu Lingga Buana dan Dyah Pitaloka di perang Bubat. Mereka lebih baik mati dari pada hidup ditengah bayang bayang penghinaan orang lain.

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!


Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke ibukota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!


Empati seorang raja terhadap suasana psikologis pengikutnya. Raga Mulya tanggap menangkap apa yang berkecamuk dalam hati dan pikiran rakyatnya kala itu. Alih alih memaksa untuk setia mengikuti rajanya, beliau malah memberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup. 

Sebagian yang setia pada raja akhirnya benar benar pergi ke selatan. Mereka pada umumnya mengambil rute Pakuan, Bantar Gadung dan akhirnya Palabuhanratu. Setidaknya rute ini terdokumentasi dalam Pantun Bogor. Mereka yang ke selatan inilah yang akhirnya membuka permukiman baru, Palabuhanratu. Namun pelarian melalui rute ini tidak lah mudah. Karena saat itu Pasukan Banten masih tetap mengejar sisa sisa pasukan yang setia kepada Raga Mulya. Kisah kisah menarik mewarnai perburuan terakhir darah biru Pajajaran. Termasuk di dalamnya cinta, pengkhianatan, keyakinan, dan peperangan itu sendiri. Sebuah epik yang mengharu biru, namun terkubur dalam debu sejarah.

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dengarkan! Kalian yang memilih ke timur harus tahu: Kejayaan akan menyertai kalian! Keturunan kalian bakal memerintah di antara kalian sendiri dan juga orang lain. Tapi ingat, kalian nanti bakal lupa diri. Bakal ada pembalasan untuk ini. Silahkan pergi!

Obyek yang dituju kelihatannya merujuk pada kekuatan Kesultanan Cirebon kala itu. Angin jaman memang memihak Cirebon kala itu. Betapa tidak, kesultanan ini melewati masa keemasannya di bawah Sunan Gunung Jati, berfungsi dan dihormati sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah Sunda, masih eksis di jaman Mataram Islam, bertahan selama masa penjajahan Belanda, dan kesultanan ini secara de fakto masih berdiri dalam kerangka Republik Indonesia (Kanoman dan Kasepuhan). Tidak salah kalau wangsit ini mengatakan mereka yang masih menginginkan kekuasaan untuk pergi ke Cirebon (timur) mengingat panjangnya umur kesultanan ini. Peluang untuk merengkuh kekuasaan terbuka lebar di sana. Namun kita tidak tahu kala itu siapa pengikut Raga Mulya yang benar benar pergi ke Cirebon. Dan turut berkuasa di sana, lupa diri, dan dan kemudian terkena karma.

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. 

Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Kalian yang memilih pergi ke barat! Carilah Ki Santang! Sebab di masa depan, keturunannya akan menjadi orang bijak  yang akan mengingatkan diri kalian dan orang lain. Juga menjadi pengingat kepada bekas teman teman kalian senegara, dan seiman yang masih lurus hatinya. 


Ingatlah, bila suatu malam, dari gunung Halimun terdengar suara kentongan, itulah tandanya. Keturunannya akan dipanggil oleh yang mau menggelar hajatan di Lebak Cawéné. Jangan lamban, sebab telaga akan pecah! Silahkan segera pergi! Tapi jangan menoleh kebelakang!

Inilah bait bait pertama wangsit yang paling banyak menuai kontroversi sampai saat ini. Siapa ki Santang ? Dimana Lebak Cawene? Namun mengingat tempat yang dimaksud adalah Gunung Halimun, kita bisa memperkirakan sebagian pengikut Raga Mulya memang ada yang  benar benar pergi ke tempat ini dan mendirikan permukiman baru dengan mempertahankan tradisi lama Pajajaran. Kita sekarang mengenalnya dengan Kasepuhan adat Banten Kidul. Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi. Visi raja yang mengatakan mereka yang pergi kebarat adalah orang orang netral, benar adanya. Dari jaman ke jaman, mereka tidak terdengar terlibat dalam politik pemerintahan yang berkuasa saat itu. Baik masa kesultanan Banten, Mataram Islam, Belanda, hingga Republik indonesia. 


Dengan demikian kita sudah 'menemukan' benang merah kaitan antara komunitas Cipta Gelar dengan asal muasal berdirinya Palabuhanratu. Namun tetap saja tidak menjawab siapa Ki Santang, mana keturunannya, suara kentungan yang bagaimana yang dimaksud Siliwangi, dan di mana Lebak Cawene.

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Kalian yang memilih ke utara, dengarkan! Ibukota yang akan kalian datangi takkan pernah bisa kalian temukan. Yang akan kalian temukan hanyalah padang ilalang yang harus dibersihkan. Keturunan kalian nantinya  kebanyakan hanya akan menjadi rakyat biasa. Kalau ada yang jadi pejabat pun tidak akan punya kekuasaan.  Ingatlah, kalian nanti akan terdesak oleh para pendatang. Dan akan banyak lagi orang yang datang, tapi pendatang yang menyusahkan. Waspadalah!

Ini adalah pilihan sebagian orang orang yang ingin kembali ke Dayeuh, ke Pakuan, bekas ibukota Pajajaran. Nampaknya banyak juga keturunan Pajajaran yang kembali ke Pakuan, atau kota Bogor sekarang dan beranak pinak disana. Mereka kelihatannya tipikal orang yang tidak bisa begitu saja menghilangkan memori tanah kelahiran. Namun inilah visi Siliwangi terhadap orang orang yang pergi ke utara : mereka kelak hanya akan menjadi rakyat biasa. Kalaupun ada yang menjadi pejabat, tak kan punya kekuasaan. Dan yang lebih mengenaskan, mereka akan terdesak oleh para pendatang. Yang dalam bahasa Siliwangi : pendatang yang menyusahkan.

Visi Raga Mulya mengenai orang yang balik ke Dayeuh ini telah terjadi dan benar adanya. Mereka yang benar benar balik ke sana hanya menemukan bekas ibukota ini telah menjadi puing puing yang kemudian ditumbuhi ilalang semak belukar. Akhirnya lambat laun dilupakan orang. Reruntuhan bekas istana Pajajaran ini akhirnya ditemukan kembali oleh Scipio, orang Belanda yang melakukan penelitian mengenai Pajajaran sekitar 1687. Berarti hampir 100 tahun setelah Pakuan dibumihanguskan Banten.

Berdasar bait wangsit ini, tak heran kalau banyak keturunan Pajajaran (yang bertahan di Bogor) yang mencari jejak karuhunnya di Palabuhanratu. Bagaimanapun situasi saat itu memungkinkan satu saudara terpisah karena memilih pilihan yang berbeda. Sekali lagi kita telah bisa menjawab banyaknya orang Bogor masa kini yang mencari jejak karuhun di Palabuhanratu.

Ayunan pendulum sejarah telah bergerak ke daerah selatan tanah Pasundan. Bagaimana nasib para pelarian ini, kita lanjutkan di posting berikutnya.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...